Sabtu, 03 Desember 2016



NPWP bagi Wanita yang sudah menikah


                Salam.
Tulisan saya yang kedua adalah tentang hal yang menurut saya si a bit useful, just experienced it.
So, meskipun saya sudah dipotong pajak pendapatan selama sepuluh tahun lebih bekerja, saya toh nyatanya belum punya kartu NPWP. Kartu cantik yang merupakan bukti bahwa kita taat bayar pajak selain pajak kendaraan bermotor dan pajak bumi dan bangunan yang setiap tahun itu, belum bocan di dompet saya yang isinya penuh dengan kartu, ada kartu ATM, kartu Tanda Penduduk, kartu mahasiswa, kartu keanggotaan toko ini dan itu, dan kartu lainnya, kecuali kartu keluarga…bukan karena saya tidak punya, tapi karena kartu tersebut tidak muat di dompet, muat si kalau dipaksa, ditekuk 10x.. wew! Please add that to your don’ts.
                Nah, seperti ketika saya pertama membuat paspor saya via online (akan ada posting terpisah tentang ini), saya pun mendaftarkan diri untuk membuat kartu NPWP via online.  Di kantor, (saya mengajar di IAIN Purwokerto) para admin sudah menagih kami para dosen dan karyawan untuk mengumpulkan kartu NPWP sehingga mau tidak mau saya merasa dipaksa untuk membuat. Kemudian saya teringat bahwa suami saya sudah memiliki kartu NPWP ini beberapa tahun yang lalu…rekan dosen di kampus pun sudah membahas tentang peraturan NPWP bagi suami istri. Tapi dasar saya kadang skeptical luar biasa, saya nekat nongkrong di kantor dan memanfaatkan jaringan internet gratis untuk mendaftarkan diri demi nomor NPWP. Alamatnya di sini: https://ereg.pajak.go.id/
                Saya mendaftarkan diri sebagai wajib pajak pribadi karena saya pikir lebih oke kalau memiliki nomor NPWP sendiri            
saya kemudian mengisi formulir ini itu, konfirmasi via e-mail dan lain-lain, sampai akhirnya saya mendapat pemberitahuan lewat surat elektronik bahwa pengajuan pajak pribadi saya ditolak. Agak kaget juga melihat e-mail penolakan ini….saya langsung teringat masa saya muda, jaman ada tolak tolakan seperti itu..tapi kemudian saya took it easy, yah mungkin memang belum jodoh.. LoL..
                kemudian saya teringat lagi, saya sudah pernah membaca di beberapa artikel bahwa untuk wanita yang sudah menikah maka dia bisa memilih salah satu dari 3 opsi: anda bisa mencetak langsung NPWP anda mengikuti suami dengan persyaratan:
1.       Foto kopi NPWP suami
2.       Isi formulir pendaftaran di kantor Pajak.

Jadi ya di kala saya sedang punya waktu longgar (lebih looonggaarrr dari biasanya), saya kunjungi Kantor Pajak yang begitu semarak dengan baliho Amnesty Pajak. Agak dag dig dug melihat sudah buanyak mobil parkir yang artinya saya mungkin harus mengantri lama. Ternyata saya lebay, begitu masuk ke dalam kantor yang baru pernah saya kunjungi selama saya hidup ini, banyak petugas sudah bersiap melayani dan belum banyak orang antri juga (jadi itu mobil-mobil pada parkir di depan kantor punya siapa ? jangan-jangan saya salah masuk ke kantor rental mobil….ih, ga lucu !). saya langsung tut ambil nomor antrian, nomor 2, dan ditegur satpam karena seharusnya saya konsul dulu dengan beliau, tapi mau gimana lagi, I could’t help it, I felt so awesome being there… Jika anda datang pagi, biasanya tidak perlu mengantri. Pengalaman saya, hanya berbekal NPWP asli dan foto kopi NPWP suami, setelah mengisi formulir, 5 menit kemudian kartu NPWP saya sudah di tangan.. dengan penampakan yang lebih cantik dari milik suami pastinya, karena punya saya baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar